header2
Artikel Batik
Sekilas Sejarah Batik di Indonesia
Last Edited : 03 Mei 2012 19:06:31
Batik, berasal dari kata yang berakhiran ‘tik, dari kata menitik, yang berarti menetes. Dan awalan ‘ba’ berasal dari kata ‘amba’ artinya luas. Etimologi istilah batik tersebut bisa diartikan sebagai menitikkan malam dengan canting sehingga membentuk corak yang terdiri dari susunan titik dan garis diatas media. Dalam buku ensiklopedia Indonesia batik berarti suatu cara menulis diatas kain mori, katun, teteron adakalanya diwujudkan pada kain sutera yaitu dengan cara melapisi bagian-bagian yang tidak berwarna dengan lilin yang disebut malam, kemudian kain yang sudah dilapisi lilin tersebut dicelup kedalam zat warna yang dikehendaki, dikeringkan, kemudian akan diulangi untuk setiap warna yang diinginkan Ditinjau dari perkembangan batik di Indonesia, ada 2 pendapat yang menyatakan asal batik, pendapat pertama menyatakan asal batik pertama datang bersama dengan masuknya agama hindu dan budha dari India. Pendapat kedua menyatakan bahwa batik adalah hasil karya asli Indonesia. Pendapat ini berdasarkan alasan bahwa teknik membuat batik, yaitu menutup dengan bahan lilin pada bagian-bagian kain yang tidak diberi warna, tidak hanya dikenal di daerah-daerah yang langsung mendapat pengaruh hindu dan budha, seperti Jawa dan Madura, tetapi teknik batik juga dikenal di Toraja, Flores, dan Irian Jaya/Papua (Tirtoamidjoyo, et al., 1966) Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Kerajaan Majapahit. Namun dalam pengembangan dan perkembangan batik, Keraton/Kerajaan Yogyakarta banyak berperan penting. Proses Pembatikan di Yogyakarta mulai dikenal semenjak kerajaan Mataram ke-1 . Saat itu pembatikan terbatas pada lingkungan dalam keraton yang dikerjakan oleh para perempuan pembantu ratu. Selanjutnya pembatikan meluas pada trap pertama pada keluarga keraton lainnya yaitu istri para abdi dalem dan tentara kerajaan. Pada upacara resmi kerajaan, keluarga keraton menggenakan pakaian batik dan lurik. Pada saat mendapat kunjungan dari rakyat, rakyat dapat melihat pakaian yang dikenakan keluarga kerajaan tersebut. Rakyat yang tertarik kemudian meniru pakaian batik yang dikenakan keluarga kerajaan tersebut. Akhirnya meluaslah pembatikan keluar tembok keraton. Selain itu ‘peperangan melawan belanda’ juga turut membantu penyebaran batik, karena akibat dari peperangan pada masa tersebut, banyak keluarga raja yang mengungsi dan menetap di daerah-daerah baru, diantaranya Banyumas, Pekalongan, dan ke daerah timur diantaranya Ponorogo, Tulung Agung, dan sebagainya. Keluarga-keluarga keraton yang mengungsi itulah yang mengembangkan pembatikan di seluruh pelosok Jawa, yang berkembang menurut alam dan budaya daerah tersebut. Batik menjadi sangat populer akhir abad XVIII (abad ke-18) atau awal abad XIX (abad ke-19). Saat itu batik yang dihasilkan ialah (semuanya) batik tulis sampai awal abad XX . Perkembangan Industri, dan pesatnya informasi membawa teknik membatik jenis baru, yaitu dikenal dengan batik cap. Teknik membatik cap mulai dikenal setelah Perang Dunia I ataus sekitar tahun 1920-an. Pada awal pengembangan batik, motif-motif batik didominasi oleh motif tumbuhan dan binatang. Namun pada perkembangannya corak-corak mulai berkembang, tak hanya tumbuhan dan binatang namun mulai ada motif abstrak diantaranya menyerupai awan, relief candi, wayang dsb. Ragam corak batik di Indonesia sangat banyak, hal ini dipengaruhi oleh filosofi dan budaya pada masing-masing daerah dimana batik tersebut dikembangkan. Motif batik menjadi bentuk mengejawantahan dari jati diri di masing-masing daerah tersebut. Ditinjau dari motif batik Indonesia berdasarkan daerah asal diantaranya adalah batik bali, batik banyumas, batik madura, batik malang, batik pekalongan, batik solo, batik tasik, batik aceh , batik cirebon, batik jombang, batik banten, batik tulungagung, batik kediri, batik kudus, batik jepara Di pulau Jawa terdapat beberapa pusat pembatikan yang tersebar di beberapa tempat, misalnya Indramayu, Cirebon, Madura, Tasikmalaya, Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta. Batik yang telah berkembang melalui proses yang sangat lama, telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat kita, khususnya dalam budaya Jawa. Di masa lalu, kegiatan membatik merupakan domain kegiatan perempuan, atau menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Sampai ditemukannya batik cap yang memungkinkan lelaki terlibat dalam proses membatik. Namun ada pengecualian, di beberapa daerah, yaitu di daerah pesisir, lelaki juga membatik. Beberapa motif batik menunjukan fenomena ini, diantaranya ditunjukan pada motif Megamendung, yang menunjukan garis maskulin. Tradisi membatik pada awalnya juga merupakan tradisi yang turun temurun. , sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan hingga kini. Sejak 2 Oktober, 2009, Batik Indonesia, secara keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Integible Heritage of Humanity). (DW)